Orang Muda Katolik adalah generasi potensial yang senantiasa diandalkan oleh Gereja dan Negara. Dalam diri mereka melekat aneka predikat yang menggetarkan sekaligus menggerakkan, antara lain generasi penerus, agen perubahan atau pendobrak kemapanan, generasi kreatif, dan seterusnya.

Julukan-julukan heroik di atas, akan sangat bermakna jika orang muda mau mencurahkan potensi yang dimilikinya untuk berbuat hal-hal yang positif, baik bagi pengembangan dirinya, keluarga, Gereja maupun Tanah Air.

Namun, realitas yang terjadi tentu tidak semudah yang diharapkan. Apalagi berhadapan dengan situasi global yang sedang dialami saat ini. Situasi globalisasi yang melanda dunia dewasa ini, antara lain ditandai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang amat pesat dengan system digitalisasi.

Kita harus akui, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti media on line, media-media sosial, dan sebagainya, menghadirkan banyak hal positif bagi kehidupan serta memberikan kemudahan untuk mengakses berbagai informasi maupun membantu memudahkan pekerjaan kita.

Kendati demikian, kemudahan yang dtawarkan teknologi canggih tersebut juga memiliki sisi negatif. Sisi negatif itu mudah ditemukan dalam keseharian kita sekarang ini, misalnya orang semakin tergantung pada media sosial, bahkan berselancar dalam dunia maya itu tidak mengenal waktu, bahkan hampir seluruh waktu hanya dihabiskan untuk ber-medsos.

Akibatnya, waktu untuk menumbuh kembangkan iman, seperti doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti Ekaristi menjadi tersamar. Kalaupun ada waktu untuk itu, bisa jadi hanya sekedar formalitas, hatinya tidak sepenuhnya ada dalam suasana yang mampu menghantarnya pada penguatan dan peneguhan iman.

Demikian pula waktu untuk belajar atau bekerja, kuantitasnya dikalahkan oleh waktu untuk mengembara di dunia maya. Dengan demikian pasti sangat mempengaruhi kualitas seseorang dalam arti yang luas.

Hal-hal tersebut tentu menjadi tantangan serius bagi orang muda umumnya, termasuk Orang Muda Katolik (OMK). Sebagai generasi yang diandalkan, Gereja khususnya, sangat meletakan harapan besar pada OMK untuk menjadi pilar hidup menggereja, baik di masa sekarang maupun masa depan.

Kondisi maupun tantangan yang dikemukakan di atas, merupakan bagian dari keprihatinan Gereja. Melalui Bapa Suci Sri Paus Fransiskus, maupun para Paus sebelumnya, ungkapan keprihatinan itu terungkap dalam berbagai kesempatan serta lewat beragam bentuk pernyataan, himbauan dan harapan.

OMK dan AYD

Gereja tentu tidak hanya mengungkapkan keprihatinannya. Gereja Katolik baik Gereja Universal, Regional, Nasional maupun Gereja Lokal memiliki perhatian yang luar biasa bagi orang muda.

Ada sekian banyak perhatian yang telah diupayakan Gereja dalam rangka pengembangan orang muda, baik untuk pengembangan kepribadian, iman, maupun dalam kehidupan sosial. Baik dalam bentuk pembinaan, pendampingan, kaderisasi kepemimpinan, dan seterusnya.

Perjumpaan atau pertemuan antar OMK merupakan salah satu model pembinaan dan pendampingan orang muda yang cukup populer saat ini. Asian Youth Day (AYD) merupakan salah satu pertemuan yang difasilitasi secara penuh dan serius oleh Gereja dalam mengumpulkan OMK dari Negara-negara Asia. Kegiatan yang melibatkan OMK se-Asia ini, menjadi sangat aktual, karena akan dilaksanakan pada akhir Juli 2017 ini dan Indonesia sebagai tuan rumah, tepatnya di Keuskupan Agung Semarang.

AYD merupakan turunan dari World Youth Day (WYD) yang pertama kali dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II yang saat ini telah menjadi seorang Santo (Orang Suci). Di tingkat Nasional kita mengenal Indonesian Youth Day (IYD). Sedangkan Keuskupan Denpasar ada Jumpa Orang Muda Katolik (JOMK), di mana kegiatan ini ada juga di tingkat Dekenat. Bahkan di Paroki, seperti paroki kita, tahun ini OMK Katedral telah menyelenggarakan dengan sukses Catedral Youth Day.

AYD, sebagaimana juga pertemuan serupa pada berbagai level, diharapkan tidak sekedar bertemu, tetapi bisa mengambil bagian secara aktif dalam upaya menyelamatkan dunia dari situasi kekacauan dengan cara orang muda sendiri, dan tetap menjadi pilar harapan Gereja.

Tema AYD 2017 yakni “Joyful Asian Youth! Living the Gospel In Multicutural Asia.” Melalui tema ini, Gereja Katolik di Asia hadir di tengah masyarakat yang memiliki tingkat keanekaragaman budaya, agama dan masyarakat multikultural.

Indonesia sendiri, sejatinya dikandung dan dilahirkan dari rahim multikultural yang merupakan konsekwensi logis dari kondisi sosio kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Dalam konteks inilah, tema AYD 2017 sangat relevan dan kontekstual di Indonesia, bisa juga bagi Negara-negara lainnya di Asia.

Live In AYD 2017 merupakan salah satu tahapan penting AYD 2017. Sebelum hadir dalam puncak AYD di Yogyakarta Keuskupan Agung Semarang, 2-6 Agustus 2017, para peserta baik dari luar negeri (Negara-negara Asia) maupun OMK dari keuskupan-keuskupan di Indonesia akan mengikuti Live in terlebih dahulu, tepatnya pada 30 Juli – 2 Agustus 2017.

Ada 11 Keuskupan di Indonesia yang dipercaya menjadi tuan rumah live in. Keuskupan Denpasar merupakan salah satu tuan rumah live in. Panitia Live In Keuskupan Denpasar yang dimotori Komisi Kepemudaan sudah menyiapkan acara ini sekaligus siap menyambut sahabat-sahabat muda yang akan live in di keuskupan kita. Bahkan 10 paroki, termasuk Paroki Katedral Denpasar, dipercaya oleh Bapak Uskup melalui Komisi Kepemudaan menjadi salah satu tuan rumah.

Jadi, Paroki Katedral bersama sembilan paroki lainnya, diharapkan menjadi tuan rumah yang baik dan menyukseskan live in. Selama Live In, para peserta akan tinggal di rumah-rumah umat, hidup dan beraktivitas bersama baik aktivitas rohani maupun aktivitas rutin yang berkaitan dengan karya dari orang tua angkat.

Live in menjadi momen yang sangat penting karena hidup bersama di tengah keluarga maupun di tengah masyarakat. Kiranya melalui live ini ini dapat memenuhi harapan dari tema yang diusung dalam AYD 2017. Live in, merupakan kesempatan untuk saling berkenalan, salingberinteraksi, saling mengenal budaya dan karakter masyarakat satu sama lain, bahkan bisa berbagi pengalaman bagaimana hidup bersama secara damai di tengah aneka suku, agama, budaya yang berbeda.

Interaksi Shering pengalaman itu bisa menjadi pembelajaran bersama OMK dan dapat menjadi bekal untuk berjuang dan mewujudkannya di tengah masyarakat dari mana dia berasal, yang pada gilirannya dapat menjadi duta Gereja Katolik di tengah masyarakat multikultural, atau dalam bahasa Gereja sering disebut menjadi Saksi Kristus di tengah masyarakat majemuk.

Terkhusus kepada OMK Paroki Roh Kudus Katedral, sangat diharapkan untuk memanfaatkan momentum AYD 2017 yang gaungnya sudah cukup menggema, tidak hanya untuk saling mengenal OMK secara internal maupun dengan sahabat OMK dari Negara Asia dan keuskupan lain, tetapi juga mampu berinteraksi secara cerdas, sekaligus membangun kesaksian hidup beriman yang militan dan menjadi Garam dan Terang Dunia.

Sukseskan AYD 2017, Sukseskan Live In di Keuskupan Denpasar, Sukseskan Live In di Paroki Katedral. Biarkan dirimu dipakai oleh Allah untuk menjadi sumber berkat bagi hidup orang lain. ***

Oleh: RD. Herman Yoseph Babey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *