Dalam bulan Oktober lalu, di paroki kita, Roh Kudus Katedral Denpasar, mengalami dua momentum atau kegiatan penting sekaligus. Kedua momentum itu bermuara pada satu makna dan esensi yang sama yaitu “Kepemimpinan”.

Dua kegiatan itu adalah “Pelatihan Kepemimpinan Pastoral” dan “Pelantikan Pemimpin (Pengurus)” Lingkungan dan KBG se-Paroki Roh Kudus Katedral. Kegiatan pertama yang merupakan program dari Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar sungguh menjadi sebuah pembekalan bagi para Pemimpin Pastoral.

Sementara kegiatan kedua bersifat perutusan bagi para Pemimpin Pastoral yang dipercaya oleh umat itu untuk menjadi pelayan. Antara kedua momentum ini memiliki relevansi yang sangat erat, sebab seorang yang diutus atau akan melaksanakan fungsi kepemimpinan itu perlu terlebih dahulu dibekali, sebagaimana Yesus membekali tujuh puluh orang Murid yang diutus untuk mewartakan Kabar Gembira dan Keselamatan dari Allah.

Yesus membekali mereka antara lain apa yang perlu mereka perbuat selama menjalankan tugas perutusan itu. Bahkan Yesus menantang para murid yang diutusNya bahwa pekerjaan mereka tidak mudah, mereka seperti domba yang diutus ke tengah serigala. Kendati demikian, di sisi lain Yesus pun memberikan mereka kuasa untuk menyelamatkan banyak orang yakni kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan mengalahkan setan-setan (Bdk. Lukas 10: 1-11; 17-21).

Berkat yang diterima saat pelantikan para pengurus Lingkungan dan KBG di Paroki Katedral beberapa saat lalu sesungguhnya mengalirkan kuasa Yesus agar para pengurus yang telah dipercaya itu dapat menjalankan tugas pelayanannya dengan iman yang tangguh. Yesus itu akan senantiasa menyertai mereka dalam melaksanakan tugas pelayanannya.

Dengan memiliki iman yang tangguh seperti para murid yang diutus dalam teks Kitab Suci di atas, para pelayan Gereja inipun mampu menjadi pemimpin yang tangguh yang mampu menaklukan segala tantangan, sehingga pada akhirnya akan bersukacita karena mereka mampu menyelamatkan banyak orang.

Sama seperti para murid yang diutus Yesus, para pemimpin pastoral mulai dari pengurus Lingkungan, KBG, Kelompok Kategorial, termasuk Bapak Uskup, para Imam dan Biarawan-Biarawati, dalam menjalankan tugas pelayanan yang dipercayakan Gereja (umat), pasti akan menghadapi aneka kesulitan, tantangan dan masalah di lapangan.

Berhadapan dengan umat yang beragam karakter, beraneka keinginan, bermacam motivasi dan cara pandang bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Untuk mengatasi semua itu tidak cukup hanya dengan menjadi pemimpin yang bijak. Tetapi juga membutuhkan pemimpin yang tangguh, tahan banting dan tentu iman yang teguh.

Dalam konteks itulah menjadi sangat relevan apa yang menjadi cita-cita Gereja Katolik Keuskupan Denpasar yang tersirat dan tersurat dalam visinya pasca Sinode IV yaitu “Menjadi Gereja Beriman Tangguh, Mandiri dan Berani Bersaksi dalam Masyarakat Majemuk”.

Gereja dalam hal ini umat Allah termasuk di dalamnya para pemimpin pastoral yang telah disebutkan di atas, haruslah memiliki iman yang tangguh dan mandiri (dalam pengertian yang luas).

Kita memiliki tokoh panutan dalam Kitab Suci yang mempunyai iman yang tangguh, dan karena imannya itu menjadikan mereka itu pemimpin yang tangguh dalam sejarah keselamatan, antara lain Maria, Petrus maupun Abraham.

Masing-masing tokoh ini memiliki cerita heroiknya masing-masing dalam sejarah keselamatan manusia. Ada juga tokoh lain seperti Paulus yang awalnya sebagai seorang anti-Kristus, kemudian bertobat dan menjadi pengikuti Kristus yang setia sekaligus pemimpin yang luar biasa yang mengorbankan jiwa raganya demi kecintaannya pada Yesus. Dari mereka ini kita bisa belajar banyak hal sekaligus menjadi inspirator kita.

Mereka juga adalah orang-orang berkepribadian mandiri, dalam arti memiliki kemandirian dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Tanpa kemandirian seperti itu, mereka pasti dengan mudah dipengaruhi oleh situasi maupun pengaruh orang lain untuk meninggalkan Yesus.

Kemudian muara dari ketangguhan dan kemandirian iman maupun kepribadian itu tentu tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain. Maka, setiap pemimpin pastoral harus berani bersaksi di tengah masyarakat luas dan majemuk, melalui keteladanan-keteladanan yang dibutuhkan dalam kehidupan bersama, misalnya kejujuran, kerja keras, kebijaksanaan, berjuang dan berpihak pada mereka yang miskin dan menderita, bermurah hati terhadap sesama,  dan sebagainya.

Selain memiliki sejumlah sikap terpuji di atas, seorang Pemimpin Gereja (Pastoral) haruslah menjadi “Pastor Bonus” atau Gembala yang Baik. Paus Fransiskus menghendaki para pemimpin pastoral itu ‘berbau domba’ pemimpin yang dekat dengan umat, mengerti tentang kebutuhan umat dan bersama mereka melawati kesulitan-kesulitan hidup yang mereka hadapi.

Pemimpin berbau domba juga pemimpin yang pantang menyerah, percaya diri, bersemangat misioner, berjiwa melayani. Intinya, pemimpin berbau domba itu pemimpin berkarakter tangguh, berpkeribadian mandiri dan berani bersaksi.

Mampukah kita mewujudkannya? Semoga!

Oleh : RD. Herman Yoseph Babey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *