Menjadi seorang yang kaya adalah hak setiap orang. Supaya mencapai tingkat hidup yang demikian, orang bekerja keras supaya impiannya itu tercapai. Kepada orang-orang seperti ini tentu patut diapresiasi.

Ada juga orang yang ingin menjadi kaya dengan cara-cara kotor dan licik, misalnya dengan cara menipu, mencuri dan cara-cara melanggar etika lainnya. Ada juga yang mau menjadi kaya dengan cara melanggar hukum, seperti melakukan korupsi dan ini pasti merugikan kepentingan masyarakat banyak.

Tentu saja cara-cara kotor dan licik serta dengan cara melanggar hukum dalam meraih kekayaan merupakan perbuatan kejahatan yang patut ditindak secara tegas sesuai hukum yang berlaku. Orang-orang seperti ini juga layak mendapat sanksi sosial (misalnya dicemooh atau dikucilkan) dari orang banyak atas perbuatan mereka. Dalam kacamata iman, perbuatan seperti ini juga sebagai perbuatan dosa.

Godaan akan kekayaan duniawi memang dapat menjebak manusia (orang) untuk melakukan apa saja demi meraihnya. Hal ini dikarenakan manusia mengukur kebahagiaan hidup itu hanya berdasarkan ukuran uang dan materi.

Uang atau materi memang harus diakui sangat dibutuhkan oleh manusia demi kesejahteraan hidup atau untuk melangsungkan hidupnya. Namun, tenggelam dalam kesibukan untuk meraih kekayaan, lalu mengabaikan kehidupan sosial dan kehidupan iman bukanlah suatu sikap yang bijaksana.

Tidak ada larangan bagi siapapun untuk bekerja keras demi meraih kekayaan, malahan harus didukung secara penuh, namun kesibukan untuk meraih kekayaan harus diimbangi oleh kehidupan sosial dan kehidupan iman yang baik.

Sebab uang dan materi bukanlah segala-galanya bukan pula satu-satunya sarana dalam mengukur kebahagiaan. Kalau kita memandang uang dan materi adalah segala-galanya dan satu-satunya alat mengukur kebahagiaan, maka itu akan berpangaruh kepada sikap hidup yang materialis.

Jika sudah terjebak pada hidup yang materialis, maka aspek sosial menjadi lemah bahkan dalam sejumlah kasus dapat mematikan karir dan pekerjaan orang lain karena ambisi ini. Di sisi lain, hidup iman menjadi sekedar formalitas, datar, dan lemah, yang pada akhirnya tenggelam dalam kesendirian dan merasa gersang.

Sikap yang hanya mementingkan kekayaan atau hanya mengejar harta duniawi merupakan sebuah ketamakan. Yesus sendiri tidak suka dengan orang tamak (ketamakan). Sikap Yesus ini sangat jelas tergambar ketika Dia berdialog dengan seseorang yang ingin mendapatkan warisan dari saudaranya.

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku”. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” KataNya lagi kepada mereka: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari kekayaannya itu”
(Bdk. Luk 12:13-21).

Dari teks ini sangat jelas peringatan Yesus, yang tentu berlaku pula bagi kita pengikut-Nya yang hidup di zaman ini. Seperti apapun tantangan hidup saat ini, bahkan orang berlomba-lomba untuk meraih kekayaan yang berlimpah-limpah, hendaklah sebagai pengikut-Nya kita senantiasa mengingat peringatan Yesus ini bahwa hidup (kebahagiaan hidup) ini tidaklah semata-mata tergantung dari kekayaan.

Ada banyak aspek lain yang membuat hidup ini bahagia, misalnya memiliki keluarga yang harmonis, memiliki banyak kawan, bisa berbagi dengan orang lain terutama mereka yang berkekurangan, dan sebagainya. Walaupun secara materi sangat pas-pasan, tetapi jika kita memandang kebahagiaan itu dari aspek-aspek ini maka sejatinya kita telah berada di jalan kebahagiaan itu.

Yesus sesungguhnya bukan tidak suka dengan orang yang kaya, namun Yesus tidak suka jika kekayaan itu hanya ditumpuk untuk dirinya sendiri. Yesus mau supaya berbagi dengan yang lain. Sebab orang yang menumpuk kekayaan di dunia, dianggap oleh Yesus sebagai orang bodoh dan pastinya tidak kaya di hadapan Allah. Dengan kata lain, tidak ada tempat bagi mereka di hadapan Allah.

Pada bagian lain dari teks Lukas 12: 13-21, Yesus melanjutkan peringatan-Nya tadi dengan mengungkapkan sebuah perumpamaan.

“Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat, aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah! Tetapi Firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah”

Perumpaan Yesus ini secara tersirat hendak memperingatkan bahwa menumpuk kekayaan untuk diri sendiri merupakan sebuah kebodohan. Tentu saja Yesus menghendaki agar harta orang kaya itu hendaknya dibagi juga kepada orang lain, ketimbang dia menumpuknya dan sudah pasti tidak akan dibawa mati.

Perumpamaan ini juga hendak menegaskan kepada kita bahwa penting sekali kita kaya dalam Tuhan. Kaya dalam Tuhan itu artinya kita harus pandai bersyukur melalui doa, pelayanan maupun terlibat aktif dalam kehidupan menggereja maupun dalam kehidupan social kemasyarakatan. Semua ini sangat disukai Tuhan dan ini merupakan harta kekayaan yang kita kumpulkan supaya kelak kita masuk dalam KerajaanNya dan menikmati kekayaan sejati bersamaNya.

Jika demikian, maka yang harus dilakukan oleh orang beriman menuju iman yang tangguh adalah suatu kesadaran bahwa harta harta dunia bukan ukuran kekayaan sebenarnya.

Kekayaan yang utama adalah kekayaaan surgawi dengan cara: bangun hidup iman yang tangguh lewat cara doa, ekaristi, hidup rendah hati, penuh cinta terhadap sesama dan kekayaan dunia yang dimiliki harus menjadikan seseorang mudah untuk bangun relasi dengan Tuhan dan sesama. Semoga!

Oleh : RD. Herman Yoseph Babey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *