Salah satu cita-cita Gereja Katolik Keuskupan Denpasar yang terumus dalam Arah Dasar maupun Visi Keuskupan Denpasar pasca Sinode IV adalah mewujudkan Gereja yang beriman tangguh.

Bicara tentang iman yang tangguh, hendaknya kita belajar dari Bunda Maria. Sosok Maria ini memang menjadi salah satu tokoh yang dijadikan model seorang yang beriman tangguh yang dibicarakan dalam Sinode IV.

Sebagaimana kita tahu, Maria adalah sosok wanita sederhana. Maria dibesarkan di tengah keluarga sederhana, sebuah keluarga yang tulus beriman kepada Tuhan dan sungguh mengasihi sesama.

Kesederhanaan dan ketulusan iman dalam keluarganya sungguh membentuk Maria menjadi pribadi yang juga sangat sederhana, menjadi wanita suci dan saleh, mencintai sesama dan hidupnya selalu berpasrah pada kehendak Tuhan.

Kepribadian Maria yang demikian, kemudian menjadikan Maria bagian dari rencana keselamatan manusia oleh Allah saat Maria dikunjungi Allah melalui Malaikat Gabriel yang membawa berita gembira bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak.

Kendatipun sebagai manusia biasa Maria tidak mengerti akan hal itu, sebab baginya bagaimana mungkin dia bisa mengandung dan melahirkan seorang anak, sementara dia belum bersuami. Namun, sebagai seorang yang beriman, Maria menyerahkan seluruhnya kepada kehendak Allah.

Maria kemudian mengungkapkan kesaksian imannya lewat ucapan syukur berikut. “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juru Selamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah namaNya. RamatNya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa, Ia menolong Israel hambaNya, karena Ia mengingat rahmatNya, seperti yang dijanjikanNya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya” (Lukas 1: 46-56). Pujian Maria ini diungkapkannya ketika bertemu Elisabeth saudarinya.

Mother Mary - Nuntia Katedral Denpasar

Dari kesaksian iman Maria yang diungkapkannya kepada Elisabeth itu, menunjukkan betapa Maria adalah seorang yang rendah hati dan sangat percaya kepada kehendak Tuhan yang terjadi atas dirinya. Maria juga adalah seorang yang selalu bersyukur, dia memuliakan Tuhan dengan segenap jiwanya.

Dalam konteks ini, kita bisa belajar dari Maria, bahwa sesederhana apapun kita, jika hidup kita sepenuhnya berserah pada kehendak Tuhan, maka Tuhan akan melimpahkan rahmatNya, bahkan rahmat yang mungkin tak pernah kita duga atau sebuah rahmat besar yang tak terpikirkan atau terjangkau oleh akal manusia. Hal ini sungguh dialami oleh Maria.

Untuk kita sebagai putra-putri Maria, perlu kita belajar dan meneladani Bunda kita Maria untuk menjadi seorang yang sederhana, rendah hati, mengasihi Allah dan sesama tanpa syarat serta senantiasa menyerahkan seutuhnya hidup dan kehidupan ini pada kehendak Tuhan.

Di samping itu, kita juga perlu belajar bersaksi tentang kebesaran Allah seperti Pujian Maria, serta belajar menjadi orang yang selalu bersyukur.

Di sisi lain, Maria juga adalah seorang wanita yang tegar dalam menghadapi berbagai persoalan dan penderitaan hidup. Dalam sejarah hidupnya, ketika hendak melahirkan Yesus, Maria mengalami penolakan di tempat yang seharusnya layak untuk melahirkan seorang anak manusia, namun karena ditolak Maria pun melahirkan Yesus di sebuah kandang sederhana.

Mary Sorrow - Nuntia Katedral Denpasar

Bahkan Maria menyaksikan sendiri penghinaan, penderitaan maupun pengorbanan putraNya hingga wafat di Kayu Salib. Namun, dalam menghadapi semua cobaan dan penderitaan itu, Maria tidak pernah mengeluh, menyalahkan orang lain atau mencari-cari kesalahan orang, sebaliknya justru selalu berserah diri dan mengucapkan syukur kepada Tuhan.

Maria juga begitu setia mendampingi putraNya ketika mengalami penghinaan dan dibenci banyak orang. Maria tidak sedikit pun meninggalkan putraNya, walau situasi itu bisa saja mengancam jiwanya.

Bagaimana dengan kita? Terkadang dalam hidup ini kita sering mengeluh, mudah pasrah dalam situasi sulit, mudah putus asa, merasa Tuhan tidak adil bahkan mungkin kita meninggalkan Tuhan hanya karena merasa harapan atau doa-doa kita belum dikabulkannya.

Kita bisa belajar dari ketegaran Maria dalam menghadapi cobaan dan tantangan hidup kita, mungkin juga penderitaan yang kita alami. Kita belajar juga dari kesetiaan Maria pada putraNya. Apapun situasi yang dihadapi, Maria tetap setia pada putraNya, karena Maria sangat yakin bahwa dibalik semua penderitaan itu akan datang kemuliaan dari Tuhan.

Kemuliaan itu sungguh nyata dialami dengan kebangkitan putraNya Yesus Kristus. Kita pun bila setia menjalani Salib hidup kita, percayalah di suatu waktu kita pasti bisa bangkit dari segala kesesakan dan penderitaan dan kemuliaanpun akan menjadi milik kita. Kuncinya, kita harus memiliki iman yang teguh dan senantiasa berserah diri pada kehendak Tuhan dan jangan lupa bersyukur. ****

Oleh : RD. Herman Yoseph Babey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *