Mengikuti gagasan Chris Lowney dalam bukunya yang berjudul Heroic Leadership bahwa setiap pribadi adalah pemimpin, gagasan mengenai kepemimpinan pastoral dapat dipahami sebagai hal melekat pada setiap orang beriman kristiani. Pemaknaan ini dapat diperluas tidak hanya mereka yang disebutkan secara khusus dalam Doa Tahun Kepemimpinan Pastoral, baik pelayan tertahbis maupun pelayan dari sebagian kecil mereka yang terbaptis. Melalui sakramen baptis setiap orang beriman kristiani telah menerima martabat yang sama untuk ambil bagian tugas kepemimpinan Yesus Kristus. Sakramen Baptis menjadi dasar tugas kepemimpinan pastoral pada diri setiap orang beriman kristiani.

Dari dua puluh dua Lingkungan di Paroki Roh Kudus Katedral Keuskupan Denpasar, ada sebelas Lingkungan yang berlindung pada Bunda Maria dengan berbagai nama dan gelar, yaitu Maria Fatima, Regina Caeli, Maria Assumpta, Maria Bunda Karmel, Maria Mater Dei, Maria Stella Maris, Maria Immaculata, Maria Inviolata, Maria Ratu Rosari, Regina Pacis, dan Hati Maria Tak Bernoda. Dengan demikian menarik jika melihat bagaimana Bunda Maria sebagai Teladan Kepemimpinan Pastoral. Lingkungan yang berlindung kepada Bunda Maria menjadi Sekolah Kepemimpinan Pastoral, terutama ketika mereka mencari tahu dan menghidupi keutamaan-keutamaan Maria sebagai pelindung mereka.

Dalam Lukas 2:26-38, dikisahkan bahwa dalam bulan keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazareth, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perempuan itu Maria. Malaikat Gabriel mengatakan bahwa Maria akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Yesus. Terhadap kabar gembira dari malaikat Gabriel tersebut, Maria menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Teladan kepemimpinan pastoral yang pertama adalah kemampuan mendengarkan kehendak Allah sebagai orang beriman. Jawaban Maria tersebut merupakan buah dari tindakan Maria mendengarkan kehendak Allah yang dibawa oleh malaikat Gabriel.

Yasraf Amir Piliang dalam bukunya yang berjudul Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-tuhan” Digital, memaparkan mengenai situasi dunia modern sekarang ini. “Dunia yang berlari” pernah dipakai pula oleh Anthony Giddens sebagai judul bukunya, The Runaway World. Keduanya mengungkapkan perkembangan dunia yang begitu cepat karena arus perubahan yang cepat pula, namun kecepatan pertumbuhan dunia tersebut tidak sejalan dengan pertumbuhan kualitas manusia. Manusia terkurung dalam dunia yang tidak pernah berhenti berlari: kecepatan produksi, kecepatan inovasi, kecepatan konsumsi, kecepatan informasi, kecepatan pergantian produk dan gaya hidup, sehingga tidak pernah beristirahat sejenak untuk merenung dan refleksi. Bahkan dikatakan oleh Piliang, dunia yang berlari tersebut membuat manusia harus menyesuaikan dirinya dengan arus kecepatan dunia, yang tidak lagi waktu untuk “mengingat” nama Tuhan.

Dalam kaitannya dengan kecepatan informasi, kemampuan mendengarkan yang diteladankan oleh Maria merupakan tantangan yang sangat relevan bagi pemimpin pastoral di dunia modern sekarang ini. Seperti halnya kebanyakan masyarakat, orang beriman kristiani pun mengalami invansi informasi. Ada banyak informasi yang datang dan begitu cepat, terutama melalui media komunikasi digital seperti Facebook, Tweeter, Instagram, Whatsapp, dan Line. Tindakan mendengarkan bukan saja merupakan aktifitas yang berkaitan dengan telinga yang mendengarkan. Tindakan mendengarkan dapat merupakan tindakan kontemplatif di mana orang beriman kristiani dipimpin oleh suatu visi yang ia temukan jauh lebih bermakna daripada yang dipikirkan oleh dunia yang berlari tersebut. Dalam kepemimpinan pastoral, kecakapan dalam tindakan mendengarkan dapat dipahami sebagai menangkap visi gerak Allah yang bertindak di tengah situasi dunia yang berlari. Maria mendengarkan perkataan malaikat Gabriel menangkap visi gerak Allah tersebut dengan mengatakan “jadilah padaku menurut perkataanmu itu”,

Dalam Injil Lukas dikisahkan mengenai Maria mengunjungi Elisabeth, saudaranya, yang sedang mengandung anak laki-laki pada hari tuanya yang dikatakan mandul (Luk 1:39-45). Agustinus Gianto, pengajar di Pontifical Blibical Institute, Roma, menjelaskan bahwa Elisabeth termasuk golongan orang yang kena aib karena tidak dapat memberikan keturunan kepada Zakharia. Kini Elisabeth mengandung di usia tuanya, Sedangkan Bunda Maria sendiri sedang memasuki hari-hari yang runyam. Ia diberitahu akan melahirkan sebelum menjadi isteri Yusuf. Untungnya Yusuf tetap menjadikan Maria sebagai tunangannya yang sedang mengandung (Luk 2:5). Dalam situasi yang kehidupan yang menggelisahkan, Maria memberi ruang kepada Roh Tuhan untuk terlibat dalam sejarah hidupnya sehingga menjadi sejarah penyelamatan Allah.

Mother Mary - Nuntia Katedral Denpasar

Seorang pelayan pastoral pun seringkali di hadapkan pada situasi pelayanan pastoral yang tidak mengenakkan seperti halnya Maria mengalami situasi hidup yang menggelisahkan. Ketika pelayan pastoral memberi ruang kepada Roh Tuhan untuk terlibat dalam karya pastoral seperti halnya Maria melakukan hal tersebut, karya pelayanan pastoral menjadi karya penyelamatan Allah di tengah umat dan masyarakat yang dilayani. Dalam kegelisahan hidupnya yang diberitakan mengandung sebelum bersuami, Maria berjalan kaki menempuh jarak sekitar 150 kilometer melalui daerah berbukitbukit untuk mengunjungi Elisabeth, saudaranya. Ia meneguhkan Elisabeth yang kena aib dan sedang mengandung di usia tuanya genap enam bulan. Maria memberi ruang kepada Roh Tuhan untuk terlibat dalam sejarah hidupnya dan mengubahnya menjadi sejarah penyelamatan Allah di tengah umat-Nya.

Bulan Oktober ini menjadi bulan yang penuh dengan rahmat Allah. Umat beriman kristiani semakin dipanggil untuk menghidupi dan menghayati Tahun Kepemimpinan Pastoral dengan belajar melalui Maria, Teladan Kepemimpinan Pastoral, yaitu kecakapan dalam mendengarkan sebagai tindakan kontemplatif melihat gerak visi Allah di tengah umat dan memberikan ruang kepada Roh Tuhan untuk terlibat dalam masa-masa sulit di tengah situasi pelayanan pastoral. Bersama Maria, umat beriman kristiani turut mengatakan fiat voluntas tua, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.

Oleh : Stefanus Ardian Witjaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *