“Wrong information always shown by the media Negative images is the main criteria Infecting the young minds faster than bacteria Kids wanna act like what they see in the cinema”

Petikan lirik di atas berasal dari lagu Where Is The Love yang dipopulerkan oleh Black Eyed Peas dimana lagu ini menjadi lagu hits mereka dari album Elephunk yang rilis tahun 2003. Lirik lagu ini mengandung pesan mendalam, dimana disebutkan bahwa informasi yang salah kerap kali disajikan oleh media dan citra buruk menjadi kriteria yang utama. Media sosial merupakan salah satu media yang mempermudah penyebaran informasi buruk tersebut, bahkan daya pengaruh sosial media mampu mempengaruhi paradigma berpikir masyarakat jauh lebih cepat daripada penyebaran bakteri. Dampak daripada penyebaran informasi yang salah tersebut adalah perilaku yang tercermin dari apa yang mereka lihat dan mereka tiru.

Informasi yang sesat dan mengandung konten negatif serta cenderung mengandung kebohongan merupakan sesuatu yang kita kenal dengan istilah hoax. Hoax menyebar di masyarakat secara cepat melalui percakapan sehari-hari, fitur share dalam media sosial, dan pesan berantai di aplikasi chatting. Perilaku menyebarkan hoax di masyarakat seringkali tidak diikuti dengan kesadaran untuk melakukan cross check terhadap informasi tersebut, sehingga masyarakat mudah termakan isu hoax yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Salah satu dampak hoax yang mengerikan adalah terciptanya konflik, dan para hoax producers di masa sekarang kerap kali merilis konten hoax dengan tujuan memecah belah masyarakat. Kerapkali hoax yang beredar berkaitan dengan isu-isu identitas yang dikenal dengan istilah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan). Isu SARA yang disebar dalam konten hoax menciptakan gesekan-gesekan di masyarakat. Gesekan yang terjadi tentunya tidak sesuai dengan apa yang dikenal dengan prinsip cinta kasih.

Hoax illustration - Nuntia Katedral Denpasar

Contoh nyata gesekan yang terjadi akibat hoax adalah perdebatan kecil di grup whatsapp keluarga atau kelompok sosial. Perdebatan yang terjadi dalam grupgrup tersebut ironisnya berimbas terhadap keharmonisan kehidupan sosial. Isu pilihan pemimpin yang tidak sama, pilihan terhadap golongan politik yang tidak sama, hingga cara menyikapi suatu kabar burung yang beredar merupakan bahan yang mudah “digoreng” untuk menciptakan konflik.

Konflik sebagai dampak buruk yang diciptakan oleh isu hoax merupakan hal yang bertentangan dengan prinsip cinta kasih. Ketika seseorang mudah termakan isu hoax lalu menyikapinya dengan emosi, maka yang terjadi adalah pudarnya rasa cinta kasih terhadap sesama di dalam hati orang tersebut. Orang-orang berdebat kesana kemari dengan pemikiran konservatif tanpa disertai perilaku cross check terhadap isu tersebut cenderung mudah dibakar dengan isu hoax. Akhirnya, hoax yang beredar jika tidak disikapi dengan bijak akan memudarkan semangat cinta kasih dalam kehidupan bermasyarakat.

Marilah kita menyikapi setiap informasi yang masuk ke telepon genggam kita dengan bijak. Lakukan cross check terhadap setiap informasi yang masuk dengan cara melakukan konfirmasi kepada pihak yang disebut dalam isu tersebut, dan melakukan browsing terkait isu tersebut di internet. Menyikapi isu hoax dengan bijak turut serta mematikan mata rantai yang menjadi niat buruk penyebar hoax tersebut. Ketika hoax menyebar secara masif dan disikapi dengan emosi yang meluap-luap, penulis hanya bisa bertanya dalam hati yang bersembunyi dalam raga ini : Where Is The Love ???

Oleh : Eduardo Edwin Ramda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *