Umat Paroki Katedral yang Saya Kasihi…

Tanpa terasa, kita sudah melewati separuh jalan di tahun 2017 ini. Saya mengajak kita untuk tidak berhenti bersyukur kepada Tuhan atas segala penyelenggaraanNya bagi kehidupan kita. Syukur yang tak terhingga juga saya haturkan, karena oleh berkatNya, saya kembali menyapa umat melalui media komunikasi “Nuntia” ini.

Edisi ini, kita diajak untuk lebih dekat dengan Ekaristi. Pemilihan tema ini tentu memiliki pertimbangan mendalam. Ekaristi, sebagaimana kita pahami bersama sebagai sumber dan puncak hidup umat beriman kristiani. Salah satu makna terpenting Ekaristi itu adalah bahwa Ekaristi merupakan tindakan Yesus mempersembahkan diriNya, melalui Tubuh dan DarahNya yang dikorbankan untuk keselamatan manusia.

Sebagai orang yang mengimaniNya, lantas, bagaimana kita memaknai pengorbanan Yesus itu dalam kehidupan kita? Apa bentuk syukur dan terima kasih kita kepada Yesus yang telah menyelamatkan kita? Selain rajin dan tekun mengikuti perayaan Ekaristi Kudus, dan menyembahNya secara layak dan pantas, sebagai pengikut Yesus, kita pun seharusnya mengikuti jejak dan teladan Yesus yang rela memberikan diriNya sebagai santapan.

Caranya adalah membiasakan memberi diri dalam bermacam bentuk pelayanan dan keterlibatan sesuai tugas dan panggilan hidup kita, entah dalam keluarga, KBG, Lingkungan, Paroki, maupun dalam lingkungan kerja dan di tengah masyarakat.

Dengan kita memberi diri dalam aneka pelayanan dan keterlibatan, berarti kita telah menjalani misi keselamatan Yesus sendiri sekaligus menjadi saksiNya. Tentu kehadiran kita tidak sekedar sebagai sebuah formalitas belaka, namun kehadiran dalam beragam bentuk pelayanan dan keterlibatan itu harus sampai pada terjadinya suatu perubahan (transformasi).

Yesus sendiri telah memberikan contoh yang sangat kongkret. Seluruh pelayanan, perjuangan dan pengorbanan Yesus, tidak lain bermuara pada terwujudnya transformasi itu. Yesus menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa, memulihkan relasi bersifat vertikal antara manusia dengan Allah, menyembuhkan banyak orang sakit, mengajarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, berpihak pada kaum miskin, yang tertindas dan menderita agar harkat dan martabatnya terangkat. Itu semua dilakukan Yesus dengan misi utama terciptanya transformasi atau dengan kata lain terwujudnya keselamatan atas umat manusia.

Yesus melakukan semua tindakan keselamatan atau tindakan menuju transformasi itu dengan perjuangan yang amat luar biasa, bahkan harus mengorbankan diriNya, membiarkan diriNya sengsara dan menderita bahkan sampai mati di Salib. Semua dilakukan untuk sahabat-sahabatNya. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15.13).

Siapakah sahabat Yesus itu? Ya, kita para pengikut dan yang mengimaniNya. Sedangkan bagi kita umat manusia, sahabat itu adalah sesama kita, mulai dari keluarga sendiri, sesama umat beriman maupun yang tak seiman dengan kita, para tetangga, rekan kerja, mereka yang miskin, menderita, dan seterusnya. Sahabat itu bisa diartikan pula komunitas/organisasi/persekutuan yang harus kita layani, seperti Gereja, mulai dari KBG, Lingkungan, Paroki dan seterusnya.

Hendaklah kita memiliki hati dan memberi diri juga untuk sahabat-sahabat kita, sebagaimana Yesus telah melakukannya untuk kita. Itulah makna terdalam dari Ekaristi. Amin.

Doa dan Berkat

RD. Herman Yoseph Babey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *