Allah Bapa adalah Cinta. Dia Maha Cinta. CintaNya tidak berbatas kepada umat manusia yang sungguh dicintaiNya. Puncak dari kasih sayang Bapa kepada manusia itu adalah ketika Dia merelakan Putra kesayanganNya diutus ke tengah dunia demi menyelamatkan umat manusia yang dalam sejarahnya begitu jauh dengan Sang Bapa. Kelahiran Yesus Kristus merupakan kepenuhan rencana cinta kasih Bapa itu.

Situasi dunia pada perjanjian lama diliputi kekacauan, peperangan, perbudakan terhadap sesama manusia maupun aneka tindakan kejahatan lainnya. Keadilan dan rasa damai terasa begitu jauh. Kemiskinan, penderitaan dan penindasan merajalela, terutama dialami oleh orang-orang kecil tak berdaya. Wajah dan hati manusia sungguh berlepotan oleh dosa dan menyebabkan manusia begitu jauh dari Allah.

Namun, Allah adalah Maharahim (Pengampun), Allah adalah Mahacinta. CintaNya kepada umat manusia tidak berbatas oleh apapun, kendatipun seringkali perbuatan manusia sebagaimana gambaran situasi di atas sungguh menyakiti hati Allah dan membuat manusia terpisah jauh dariNya.

Untuk menunjukkan cintaNya kepada umat manusia, Bapa mengutus para Nabi (Perjanjian Lama) untuk menyampaikan rasa cinta dan kasih sayangNya kepada umat manusia. Setiap Nabi yang diutus selalu menyerukan cinta Sang Bapa kepada umat kesayanganNya.

Yesus of Nazaret - Nuntia Katedral Denpasar

Betapa besar kasih Bapa yang diserukan melalui para Nabi, kendatipun posisi manusia itu tidak peduli dengan seruan para Nabi. Seperti yang dialami Nabi Yeremia, yang ditolak, dicela dan dimusuhi bahkan nyawanya terancam saat menyampaikan seruan dari Tuhan. Mereka tidak mau mendengarkan dan memperhatikan malahan menolak dan melakukan permufakatan jahat sebagaimana dikisahkan oleh Nabi Yeremia itu.

Seperti saat Yeremia menyerukan Firman Tuhan kepada orang-orang Yehuda dan Yerusalem. “Tetapi mereka tidak mau mendengarkan ataupun memperhatikannya, melainkan mereka masing-masing mengikuti kedegilan hatinya yang jahat. Berfirmanlah Tuhan kepadaku: Telah terdapat persepakatan jahat di antara orang Yehuda dan penduduk Yerusalem. Mereka sudah jatuh kembali kepada kesalahan nenek moyang mereka yang dahulu telah menolak mendengarkan firmanKu. Mereka mengikuti allah lain dan beribdah kepadanya” (bdk. Yeremia 11: 8-10). Selain itu, nyawa Yeremia juga terancam di Anatot (Yeremia 11: 18-23).

Contoh lain adalah ketika umat Israel marah kepada Musa saat berada di Padang Gurun. Musa adalah orang yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan dan membawa orang Israel itu keluar dari perbudakan Mesir. Orang-orang Israel yang sudah berhasil keluar dari Mesir itu memarahi Musa, seakan-akan Musa mau mencelakakan mereka. Malahan mereka merasa lebih baik tetap bekerja dengan orang Mesir daripada mereka mati di Padang Gurun (bdk. Keluaran 14: 10-12).

Tetapi ketika itu, Musa meyakinkan mereka supaya tidak takut dan tetap bertahan sebab keselamatan dari Tuhan segera mendatangi mereka. “Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu, janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikanNya hari ini kepadamu, sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya” (Keluaran 14: 14).

Kendatipun kasih sayang Bapa yang hadir melalui seruan para Nabi sering mendapat penolakan dari umat, namun semua itu tidak menyurutkan keputusan Allah Bapa untuk mengasihi umatNya. Betapa besarnya kasih sayang Allah kepada umat kesayanganNya, juga dapat dilihat dalam pernyataan Allah berikut ini, “Sekalipun seorang perempuan (ibu) melupakan bayinya, Aku tidak akan melupakan engkau” (bdk. Yesaya 49:15).

Pemenuhan atau puncak dari kasih sayang Bapa itu ketika Dia mengutus Putra tunggalNya ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari segala dosa. Yesus datang untuk memulihkan hubungan manusia dengan Bapa di Surga.

Seperti para Nabi yang telah diutus Tuhan sebelumnya, Yesus pun menyerukan cinta kasih Bapa, mengajarkan nilai-nilai kebajikan, melakukan karya-karya ajaib dan berbagai mukjizat. Semua ini dilakukan untuk meyakinkan manusia betapa Allah Bapa mencintai manusia yang dapat mereka dengar, lihat dan dilakukan oleh PutraNya Yesus Kristus.

Nuntia Katedral Denpasar

Kendatipun dalam sejarah keselamatan itu kita tahu Yesus dalam usahaNya justru dengan penuh pengorbanan, melewati masa-masa sengsara dan penderitaan, martabatnya direndahkan bahkan berada di titik nol, hingga nyawa pun meregang di palang penghinaan (Kayu Salib).

Namun, kita bangga bahwa justru dibalik usaha penuh penderitaan dan sampai wafat di Salib itu justru menunjukan kemuliaan Yesus. Sebab semua itu dilakukan Yesus demi memenuhi kehendak BapaNya yang di Surga.

Kematian Yesus sebagai Putra Tunggal Bapa juga menunjukkan dan wujud dari cinta sepenuh-penuhnya dari Bapa kepada umat manusia. Bapa mengorbankan Putra TunggalNya demi keselamatan umat kesayanganNya. Betapa luar biasa dan tak berbatasnya cinta Bapa kepada umat kesayanganNya.

Natal kembali hadir di hadapan kita. Kita menyambut Natal dengan penuh gembira, bukan karena saat Natal tiba kita bisa berkumpul dengan sanak saudara, bisa menikmati makanan enak dengan kue-kue Natal yang bervariasi, bukan pula karena saat Natal kita memakai baju baru dan segala kenikmatan duniawi lainnya, tetapi Natal adalah perayaan di mana kita disuguhkan “Cinta Kasih Bapa” yang luar biasa.

Tanpa kelahiran Yesus, maka sejarah keselamatan umat manusia tidak akan pernah terjadi, bahkan mungkin hingga saat ini dunia masih diliputi oleh kegelapan dan segala macam kekacauan dan kejahatan yang tak pernah bisa dipulihkan. Bahkan mungkin dunia sudah lama lenyap beserta segala isinya.

Nah, bagaimana kita memaknai Cinta Kasih Bapa itu lewat kehadiran PutraNya yang akan kita sambut dalam perayaan Natal ini? Mari jadikan cinta Bapa itu menjadi spiririt bagi seluruh seluruh kehidupan kita dengan cara mencintai sesama terutama mereka yang kecil, miskin dan tertindas, bahkan mencintai seluruh mahluk ciptaan Tuhan.

Misi perutusan Yesus adalah keselamatan umat manusia, maka tugas kita juga untuk memperhatikan sesama dan alam lingkungan kita. Termasuk pro aktif dalam memajukan bangsa dan negara kita sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing. Selamat Natal 2018!***

Oleh : RD. Herman Yoseph Babey

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *