Bunda Maria adalah sebuah nama yang sangat familiar di telinga umat beriman Katolik sehingga sosok ini begitu populer dari zaman ke zaman dan dari abad ke abad. Sosok yang memiliki keturunan melebihi pasir di pantai dan bintang di langit. Sosok Maria sangat dikagumi dan dicintai umat Katolik karena teladan hidupnya yang sungguh luar biasa dan menginspirasi sekian banyak umat beriman dalam mengupayakan kesucian dan kekudusan hidup. Kerendahan hati dan penyerahan dirinya yang total lepada kehendak Allah membuat Maria senantiasa dijiwai dan diresapi roh Kudus dalam setiap tugas dan karya pelayanannya.

Sosok Maria sangat dekat dengan Allah karena sejak semula telah dipersiapkan Allah untuk mengandung dan melahirkan Putra-Nya. Sebelum Maria mengandung Yesus dalam rahimnya, lebih jauh dari itu Maria telah lebih dahulu mengandung Yesus dalam hatinya yang membuat Maria begitu taat pada rencana dan kehendak Allah. Meskipun Maria begitu dekat dengan Allah dan segala rencana dan kehendak luhur-Nya, namun dalam kisah Injil di atas, kita mulai menyadari dan mengetahui bahwa selama hidupnya di dunia ini Maria juga pernah mengalami dan merasakan kehilangan Allah dalam hati dan hidupnya.

Mary find Jesus - Nuntia Katedral Denpasar

Peristiwa ini terjadi ketika Maria dan Yusuf menemani Yesus ke Yerusalem untuk merayakan Hari Raya Paskah orang Yahudi. Saat itu Yesus berumur 12 tahun. Selesai perayaan Paskah mereka kembali dan Yesus ketinggalan di Bait Allah di tengah-tengah alim ulama. Coba kita bayangkan betapa panik dan terpukulnya hati Maria yang notabenenya adalah seorang ibu kita ia baru menyadari dan merasakan bahwa Putera sematawayangnya hilang dari tengah-tengah mereka. Dalam keadaan panik bercampur gelisah, sedih dan terluka, Maria dengan penuh kesabaran berjuang dan berusaha untuk mencari dan menemukan Puteranya itu. Beberapa nilai kekatolikan yang sepatutnya kita belajar dari sosok Maria ketika kehilangan Allah dalam hati dan hidup kita.

Pertama, ketenangan. Maria berusaha untuk mencari Allah dalam hal ini Kanak Yesus dengan hati yang tenang dan lapang tanpa menyiarkan berita itu kepada publik. Dengan ini Maria ikut mengekang berita hoax akan kehilangan Allah yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bahwa Maria begitu sabar, rendah hati dan bijaksana menghadapi setiap persoalan dalam diri dan hidupnya. Langkah dan tindakan yang ditempuh Maria ini tentu sangat berbeda dengan masing-masing kita. Malahan ketika mengalami hal yang sama, justru dangan begitu gampangnya kita menghakimi Allah dan sesama yang lain tanpa mengintrospeksi diri sendiri. Kita lebih cenderung melemparkan kesalahan dan tanggung jawab kepada orang lain karena kita kurang sabar dan kurang rendah hati. Hal ini membuat kita begitu sulit untuk menemukan kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri kita karena kita kurang menciptakan ketenangan dalam hati dan hidup kita.

Yang kedua, meskipun sudah tiga hari Maria tidak pernah putus asa untuk mencari dan terus mencari Allah. Hal ini menunjukkan begitu sabar dan setianya Maria pada kehendak Allah. Maria tidak serta merta putus asa dan kemudian pergi meninggalkan Yesus. Di tengah kerumunan masa dengan aneka bentuk kebutuhan dan persoalan hidup mereka, Maria tidak serta merta larut dalam kebutuhan dan kepentingan orang lain. Justru Maria tetap fokus pada komitmennya untuk mencari dan menemukan Putera Allah. Dan hal ini harus menjadi pembelajaran bagi kita semua dewasa ini agar kita tidak mudah tenggelam dan larut dalam arus perkembangan zaman dan teknologi tetapi kita harus senantiasa fokus pada pencarian kita akan Allah dan kerajaan-Nya.

Jesus found in the temple - Nuntia Katedral Denpasar

Yang ketiga, setelah merasakan dan mengalami kehilangan, Maria tidak menunggu sampai yang hilang itu kembali dengan sendirinya tetapi justru sebaliknya, Marialah yang berinisiatif, bekerja keras siang malam untuk mencari dan menjumpai kembali Allah dan mengajakNya untuk kembali ke tempat asal mereka, ke rumah mereka sendiri, ke relung hati dan hidupnya yang sempat hampa dan gersang akibat kehilangan ini. Misi Maria ini seringkali berlawanan dengan misi masing-masing kita. Kita lebih bersifat pasif ketimbang aktif di kala kehilangan Allah. Dan saya yakin dan percaya bahwa masing-masing kita kerap kali juga mengalami dan merasakan kehilangan Allah dalam diri dan hidup kita. Apakah dalam situasi dan keadaan demikian kita berjuang dengan segenap jiwa dan raga untuk menemukan dan mendapatkan kembali Allah atau justru kita membiarkan Allah semakin jauh menghilang dari hati dan kehidupan kita. Apakah kita juga merasakan kecemasan dan kesedihan ketika kehilangan Allah layaknya Maria atau kita merasa biasa-biasa saja dengan peristiwa kehilangan Allah dalam hidup kita sebagai akibat kita lebih sibuk mencari harta duniawi ketimbang harta surgawi. Kita lebih terpukul ketika kehilangan dunia dan segala atributnya ketimbang kehilangan Allah dan segala hukum-Nya.

Semoga selama bulan Rosario ini, bersama Bunda Maria kita giat untuk mencari dan menemukan Allah dan Kerajaan-Nya dan mempersilahkan Allah untuk tinggal dan meraja di hati dan hidup kita masing-masing.

Oleh : RD. Rony Alfridus Bere Lelo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *