Selain memperingati bulan Oktober sebagai bulan Rosario, orang beriman kristiani di Indonesia bersama dengan masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS), yaitu setiap tanggal 16 Oktober. Tanggal ini merupakan tanggal berdirinya Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO, Food and Agriculture Organization) didirikan pada tahun 1945. Pada Sidang Umum FAO ke-20, November 1976, di Roma, dicetuskan resolusi nomor 179 mengenai World Food Day (Hari Pangan Sedunia) dan ditandatangani oleh 147 negara anggota FAO. Sejak tahun 1981, negara-negara anggota FAO termasuk Indonesia mulai memperingati dan merayakan HPS dan memilih tema untuk setiap tahunnya yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik di tingkat global, regional maupun nasional.

Sejak 16 Oktober 1982, Gereja Katolik di Indonesia mengambil bagian secara aktif dalam peringatan dan perayaan HPS baik di tingkat nasional maupun di tingkat keuskupan. Gerakan HPS menjadi salah satu perwujudan iman kristiani dalam menghargai pangan yang sehat, memuliakan lingkungan hidup yang lestari dan menghormati petani yang menyediakan bahan pangan. Secara khusus peringatan HPS oleh Gereja Katolik di Indonesia menjadi sarana membangkitkan solidaritas dan menghimpun daya untuk ikut mengatasi situasi rawan pangan yang terjadi di berbagai tempat di wilayah tanah air yang menimbulkan penderitaan di kalangan masyarakat umum. Melalui HPS Gereja menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan kesadaran akan kehadiran Allah dalam tata kelola pangan di dunia.

Berkaitan dengan peringatan dan gerakan HPS, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak seluruh umat Katolik di Indonesia pada tahun 20162018 menitikberatkan perhatian pada tema “Penguatan Pangan Keluarga demi Kesejahteraan Hidup Bersama”. Selain perhatian pada upaya penguatan pangan, perhatian kepada keluarga dipilih karena keluarga adalah “sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat” (bdk. Familiaris Concortio art. 42). Tanggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan kualitas hidup manusiawi tidak cukup sebatas mengupayakan ketersediaan pangan supaya tidak terjadi kelaparan. Tekad dan niat untuk memperhatikan dan meningkatkan kualitas hidup manusia dapat diwujudkan dengan meningkatkan kualitas gizi dari pemenuhan kebutuhan pangan kita, mulai dari komunitas kita yang paling kecil, yakni keluarga.

World Food Day - Indonesia

Di Indonesia, perayaan HPS ke-38 secara nasional akan diselenggarakan pada 18-20 Oktober 2018 di Desa Jejangkit, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kementrian Pertanian (Kementan) telah memanfaatkan potensi lahan tidur seperti lahan rawa lebak menjadi lahan pertanian produktif yang sangat berpotensi sebagai penyedia stok pangan nasional. Barito Kuala, Kalimantan Selatan, dipilih sebagai lokasi HPS 2018 karena terkait gelar teknologi budidaya pada di lahan rawa seluas 4.200 hektar yang telah menjadi lahan produktif. 240 hektar sudah ditanami padi dengan kapasitas produksi mencapai 6-7 ton per hektar. Hal ini selaras dengan tema internasional World Food Day 2018 dari FAO, yaitu “A Zero Hunger World by 2030 is Possible”.

Bulan oktober, Bulan Gerakan HPS

Konferensi Waligereja Indonesia menetapkan bulan Oktober menjadi bulan Gerakan HPS bersama seluruh umat dan masyarakat. Di beberapa Keuskupan, Uskup membuat Surat Gembala dalam rangka Peringatan dan Perayaan HPS. Melalui Gerakan HPS ini, diharapkan bahwa orang beriman kristiani dan masyarakat dapat mengembangkan sikap hormat dan tindakan murah hati, habitus baru untuk berbagi, dan kedekatan hati untuk menempatkan seluruh alam ciptaan sebagai sahabat dan saudara yang saling menghidupi satu sama lain.

Apa saja yang dapat dilakukan di bulan Oktober sebagai bulan Gerakan HPS?

Pertama, melalui Tim Kerja Pengembangan Sosial dan Ekonomi (PSE), Dewan Pastoral Paroki dapat menyelenggarakan kegiatan peringatan dan perayaan HPS sebagai upaya membangun kesadaran umat beriman kristiani dan masyarakat mengenai pangan. Kegiatan-kegiatan tersebut terutama yang bersifat edukatif dan memberdayakan antara lain kegiatan seminar dan pelatihan terkait pangan yang berkelanjutan seperti pemanfaan lahan sempit pemukiman perkotaan, kegiatan pameran produk pangan, dan lomba pengolahan produk pangan. Selain itu perayaan dapat berupa Ekaristi Hari Minggu yang tematis sebagai perayaan Gerakan HPS. Liturgi pada Ekaristi ini dapat dipersiapkan secara khusus. Tema peringatan dan perayaan HPS pun dapat dirumuskan secara kontekstual sesuai dengan situasi paroki setempat.

Kedua, Dewan Pastoral Paroki dapat ambil bagian dalam mengupayakan dana solidaritas HPS. Secara konkret pengumpulan dana solidaritas HPS dapat berupa keputusan mengenai kolekte khusus pada Ekaristi Hari Minggu yang diselenggarakan untuk peringatan dan perayaan HPS. Di tingkat nasional, Konferensi Waligereja Indonesia mengelola dana solidaritas HPS tersebut untuk kegiatankegiatan yang berkaitan dengan berbagai aspek, antara lain gerakan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, gerakan membangun sumber daya pangan, gerakan menciptakan budaya pangan lokal, upaya membangun lumbung pangan, gerakan melestarikan keutuhan ciptaan, gerakan jaringan pangan, dan gerakan kewirausahaan pangan.

Hal yang menarik adalah bagaimana paroki menyusul suatu program kerja yang berkelanjutan dalam rangka peringatan dan perayaan HPS. Apalagi dalam konteks paroki di perkotaan, mungkin saja muncul gagasan, seolah isu mengenai pangan bukan isu paroki di perkotaan seperti Denpasar. Ini bukan soal isu apakah paroki di pedesaan atau paroki di perkotaan. Dengan mempercayakan diri kepada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja, gerakan HPS diharapkan semakin membangkitkan kesadaran umat beriman kristiani dan masyarakat dalam membangun kedaulatan dan ketahanan pangan demi kesejahteraan hidup bersama.

Pada kesempatan ini, marilah bersyukur dan berdoa untuk para petani dan peternak yang dalam ketekunan mereka mengupayakan ketersediaan pangan. Semoga Allah dalam kemurahanNya senantiasa melimpahkan berkat untuk kita semua, supaya “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemulianNya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:13-14.19).

Oleh : Stefanus Ardian Witjaksono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *